Archives
June 2014
S M T W T F S
« Sep    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  
Categories

Saya mempunyai seorang teman yang saya akui sangat mempengaruhi saya (secara positif tentunya) dan juga sangat menginspirasi saya. Mungkin cerita saya mengenai teman saya ini dapat menginspirasi teman-teman juga. Nama teman saya ini adalah Ratu. Sebenarnya, saya telaj mengenal Ratu semenjak saya dan Ratu mengikuti lembaga bimbingan belajar yang sama ketika kami SD. Namun saya semakin mengenal Ratu semenjak kami berada di SMA yang sama dan kelas yang sama pula, dari kelas X hingga kelas XII.

Ratu adalah sahabat saya semenjak saya berada di SMA. Saya selalu berbagi dengannya. Begitu juga dengan dia yang selalu berbagi bersama saya. Baik suka maupun duka kami lewati bersama. Kami selalu bahu-membahu dalam menyelesaikan masalah yang ada. Sesekali kami suka berselisih paham, namun kami tidak pernah sampai bertengkar, bahkan sampai tidak bertegur sapa sama sekali! Ratu selalu berkata bahwa saya adalah partner in crime-nya dia dan saya selalu berkata bahwa saya dan Ratu adalah komplementer. Bahkan orang tua saya sudah mengenal baik Ratu, sehingga mereka tidak pernah was-was ketika saya berkata hendak pergi bersama sahabat saya yang satu itu.

Saya dan Ratu memiliki ketertarikan dan minat yang sama, yaitu pada bidang medis dan bidang teknik. Entah secara kebetulan atau karena kami bersahabat sehingga kami mempunyai ketertarikan dan minat yang sama, kami pun tidak tahu. Kami pun menganggapnya sebagai kebetulan yang lucu saja. Namun sayang, orang tua dan keluarga Ratu tidak menyetujui minat nya di bidang teknik. Mereka hanya mengizinkan Ratu untuk melanjutkan studi di bidang medis, baik kedokteran, farmasi, ataupun kesehatan masyarakat. Selama masih dalam dunia medis mereka masih mengizinkan.

Hal itu sempat membuat Ratu kecewa, namun tidak membuatnya patah semangat. Hal itu malah semakin memicu dia untuk berusaha lebih efektif lagi. Dan, hal itu pun tidak menghalangi kami untuk terus belajar bersama. Faktanya, kami malah semakin sering belajar bersama, meskipun sekarang tujuan kami tidak sepenuhnya sama lagi. Kami semakin sering memecahkan berbagai macam soal dengan berbagai macam variasi nya, kami semakin gencar untuk menghapal segala macam istilah yang kami curiga akan banyak keluar dalam ujian masuk yang akan kami hadapi.

Sebelum diadakannya ujian masuk, biasanya banyak perguruan tinggi negeri dan swasta yang membuka jalur masuk PMDK (atau USMI dalam istilah IPB). Banyak siswa yang berminat untuk mengajukan aplikasi tersebut, termasuk saya dan Ratu. Kami berpendapat, mungkin saja kami dapat kesempatan. Saya mengajukan aplikasi PMDK di Universitas Diponegoro (Undip), sedangkan Ratu mengajukan aplikasi PMDK di Universitas Sebelas Maret (UNS). Namun kami sama-sama memilih fakultas yang sama, yaitu fakultas kedokteran. Kami berdua berharap agar kami dapat diterima. Namun sayang, ketika hasil nya diumumkan, nama kami berdua tidak ada dalam pengumuman penerimaan tersebut. Kami berdua tidak kecewa, karena menurut kami kesempatan untuk kuliah di perguruan tinggi negeri itu masih lebar dan terbuka untuk siapa saja, termasuk kami.

Tibalah ujian masuk pertama yang kami ikuti, yaitu ujian masuk Universitas Gajah Mada (UGM). Kebetulan pilihan kami sama semua. Kami melakukan banyak persiapan untuk ujian ini. Mulai dari belajar bersama, mencari tempat, bahkan membeli keperluan untuk ujian kami lakukan bersama. Kami pun mendaftar bersama. Ketika hari ujian tiba, kami berangkat bersama. Kebetulan lokasi kami sama serta ruangan kami bersebelahan, jadi kami tidak repot mencarinya. Sebelum ujian mulai kami sempat membahas beberapa soal namun pada akhirnya kami hanya membahas soal-soal ringan karena kami tidak mau stress terlebih dahulu. Kami menjalani ujian dengan lancar. Namun sayangnya kami belum berhasil pada ujian tersebut.

Ujian masuk kedua yang kami ikuti adalah ujian masuk Universitas Indonesia (UI). Pilihan pertama dan keua kami sama, namun pilihan ketiga kami berbeda. Saya memilih Teknik Bioproses, sedangkan Ratu memilih Kesehatan Masyarakat. Sama seperti pada ujian masuk UGM, kami juga melakukan berbagai persiapan. Kami lipat gandakan usaha kami agar kami dapat menembus ujian masuk UI. Kami berdua sangat ingin masuk Fakultas Kedokteran UI. Kami tidak berangkat bersama karena rumah kami berbeda arah dan lokasi ujian lebih dekat dari rumahnya. Pada awalnya saya berencana untuk menginap di rumah Ratu namun tidak jadi karena ketika H-1 ujian masuk UI tiba-tiba saya terserang demam tinggi. Kami menjalankan ujian ini dengan cukup lancar. Ternyata soal ujian masuk UI cukup sulit. Kami hanya bisa berharap kami dapat diterima. Sama seperti hasil ujian masuk UGM, kami pun belum diterima. Perjalanan kami masih panjang. Masih banyak ujian masuk yang bisa kami ikuti.

Saya mengikuti ujian masuk IPB dan ITB sedangkan Ratu tidak. Keluarga Ratu tidak mengizinkannya untuk mengikuti ujian-ujian masuk tersebut dengan alasan bukan Fakultas Kedokteran. Pada ujian-ujian tersebut, saya hanya berhasil menembus IPB, yaitu Teknik Industri Pertanian. Sedangkan ITB saya belum berhasil menembus nya.

Awalnya saya tidak menceritakan kepada Ratu bahwa saya diterima di IPB. Saya belum siap bercerita padanya. Saya takut mengecilkan hatinya. Saya merasa tidak enak padanya. Namun pada akhirnya saya ceritakan juga padanya karena saya paling tidak bisa menutupi apa-apa terhadap Ratu. Namun di luar dugaan saya, ternyata Ratu sangat senang ketika saya bercerita bahwa saya diterima di IPB. Dia bangga saya dapat diterima di tempat yang saya inginkan, yaitu bidang teknik. Dia pun sangat berbesar hati. Dia berjanji akan segera menyusul saya, menembus perguruan tinggi negeri. Saya sangat bangga pada Ratu. Dia benar-benar sahabat saya. Saya sangat sayang padanya.

Meskipun saya sudah diterima di IPB, saya masih mengikuti Ujian Masuk Bersama (UMB) dan SNMPTN. Selain masih ingin mencoba memecahkan soal-soal nya, saya ingin menemani Ratu ujian juga. Saya ingin dia tahu bahwa saya mendukung dia juga.

Kami tidak lolos UMB. Saya merasa biasa saja karena toh saya sudah diterima di IPB. Namun tidak dengan Ratu. Dia terlihat sangat tertekan. Di satu sisi dia ingin kuliah di perguruan tinggi negeri. Namun keluarga nya terus memaksa untuk kuliah di Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi negeri. Dia sangat stress. Dia bercerita sambil menangis bahwa sebenarnya dia tidak kuat. Namun dia tetap berusaha untuk tegar dengan semuanya. Saya, hanya bisa mendukung keputusannya saat itu. Saya pun selalu berdoa agar dia dapat diterima di Fakultas Kedokteran.

Kami pun tidak lolos SNMPTN. Saya merasa biasa saja karena saya sudah betah di IPB. Saya pun sudah memulai kuliah matrikulasi di IPB. Malah saya akan merasa bersalah jika saya diterima dan saya tidak mengambil nya karena saya telah mengambil jatah orang lain. Sedangkan Ratu, dia semakin stress. Dia semakin takut tidak diterima di Fakultas Kedokteran perguruan tinggi manapun. Dia sudah nyaris menyerah. Untungnya masih banyak perguruan tinggi negeri yang membuka ujian masuk gelombang kedua. Dia langsung mendaftar ujian masuk Universitas Islam Negri Syarif Hidayatullah (UIN/IAIN). Tadinya saya sangat ingin menemani dia, namun saya pun harus kuliah. Tapi saya tetap mendukungnya. Dia menceritakan semua detil ujian pada saya. Dia bercerita bahwa pilihan pertama nya adalah Fakultas Kedokteran dan pilihan kedua nya adalah Fakultas Psikologi. Sambil mendengarkan, saya terus berdoa agar dia diterima di Fakultas Kedokteran.

Saat itu Sabtu pagi. Ratu menelpon saya. Dengan sangat gembira (yang sangat terdengar dari suaranya) dia berkata bahwa dia diterima di Fakultas Kedokteran. Saya ikut berteriak senang bersamanya. Saya merasa sangat lega. Sahabat saya itu akhirnya bisa menembus Fakultas Kedokteran. Kami berdua sangat bahagia. Kami langsung pergi bersama untuk merayakan hal ini.

Dari Ratu, saya belajar untuk berbesar hati. Hal itu terlihat dari betapa senang dia ketika mengetahui bahwa saya diterima di IPB sesuai dengan apa yang saya inginkan. Saya tahu dia iri terhadap saya, tetapi dia berbesar hati untuk saya. Selain itu saya juga belajar kesabaran dari Ratu. Dengan bersabar, akhirnya dia mendapat apa yang dia targetkan, yaitu Fakultas Kedokteran. Dan tidak ketinggalan, Ratu tidak pernah berputus asa. Semua hal ini awalnya sangat sulit untuk saya kondisikan dalam hidup saya. Tapi berkat Ratu, perlahan tapi pasti saya mulai bisa mengondisikan hal itu dalam hidup saya….

Cerita ini merupakan pengalaman yang paling menyentuh untuk saya. Pengalaman yang saya alami ini bernar-benar menginspirasi diri saya sendiri. Pengalaman ini saya alami pada 5 September 2009 silam. Semoga pengalaman ini dapat menginspirasi teman-teman juga. Selamat membaca..

Jadi begini ceritanya.  Saat itu bulan Ramadhan. Saya meminta layanan pesan antar kepada salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia. Operator yang menerima telpon pesanan saya mengatakan bahwa makanan yang saya pesan akan sampai di rumah saya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit. Saya tidak bermasalah dengan hal itu, karena saya pikir masih cukup waktu sebelum waktu berbuka puasa. Saya mengucapkan terima kasih dan segera menutup telpon. Sambil menunggu pesanan, saya melakukan persiapan berbuka puasa.

Tiga puluh menit berlalu, namun makanan saya belum juga sampai. Saat itu saya berpikir rasional saja. Sekarang hari Sabtu, weekend. Pasti semua orang pergi berbuka puasa di luar rumah. Pasti jalanan macet. Pantas saja makanan saya belum sampai juga. Saya belum berniat untuk kembali menelpon kembali salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia itu.

Sekarang sudah 45 menit, terlambat lima belas menit. Ada apa ini, pikir saya saat itu. Belum pernah layanan pesan antar salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia ini sangat terlambat. Ke manakah makanan saya dibawa ‘jalan-jalan’ bersama si pengantar? Saya masih memaksakan diri untuk berpikir rasional, meskipun jujur, saya sudah mulai emosi pada saat itu. Saya hanya tidak habis pikir, salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia itu terletak cukup dekat dari rumah saya. Seharusnya pesanan saya sudah sampai.

Lima puluh menit berlalu. Saya sudah mulai kesal. Saya kembali menelpon salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia itu. Pada saat itu saya hanya hendak menanyakan kapan pesanan saya akan sampai. Saya berusaha untuk tidak terdengar marah pada saat itu. Operator yang menerima telpon saya mengatakan bahwa pesanan saya akan segera tiba sesaat lagi. Oke, kata saya pada operator salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia itu. Sebelum saya menutup telpon saya, saya mengutarakan keluhan saya mengenai keterlambatan pengantaran pesanan saya. Operator yang menerima telpon saya meminta maaf dan berjanji bahwa ini hanya terjadi sekali. Setelah saya menyatakan keluhan saya, saya tutup telpon saya.

Sudah satu jam berlalu sejak saya menelpon salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia pada waktu pertama kali. Saya tidak tahan.  Saya bersumpah, begitu pengantar pesanan saya datang, saya akan langsung memarahi dia karena keterlambatan dia dalam mengantar pesanan saya. Saya berpikir, toh saya sudah buka puasa (yang setelah saya tilik lebih lanjut, menurut saya tidak ada hubungannya marah dengan sudah berbuka puasa). Saya kembali menelpon salah-satu-restaurant-cepat-saji-terkemuka-di-Indonesia. Ketika saya sedang menelpon (dan belum tersambung juga), pengantar pesanan saya datang.

Emosi saya memuncak. Jujur, pada saat itu saya sudah mengambil ancang-ancang untuk memarahi si pengantar. Ketika saya melihat orang itu, saya sudah bersiap hendak memarahi dia, pada akhirnya saya tidak jadi memarahi dia. Tahukah mengapa? Karena, ketika saya melihat orang itu, yang pertama kali saya lihat adalah matanya. Sangat menandakan bahwa dia letih. Tapi demi pekerjaan, dia tetap bertahan. Dia tersenyum lemah dan berkata, “Maaf ya mbak saya telat nganterinnya.”

Saya tertegun. Saya berpikir bahwa dia mengucapkan itu dengan tulus dan dia benar-benar menyesal karena dia telat mengantar pesanan saya. Karena alasan itulah saya tidak jadi memarahi dia. Yang ada di otak saya saai itu hanyalah perasaan bersalah semata. Lalu, saya bertanya, “masih ada order tidak?” Dia menjawab, “Ada beberapa lagi mbak.” Saya kembali bertanya, “udah buka puasa belum?” Dia kembali menjawab, “Belum mbak. Nanti aja setelah order nya selesai.”

Tanpa berpikir panjang lagi, saya langsung menyuruh dia untuk menunggu sebentar. Saya langsung kembali ke dalam rumah. Selain mengambil uang, saya juga mengambil segelas air putih dan sekotak kurma. Saya keluar rumah dan langsung memberi semua yang saya ambil di dalam rumah tadi padanya. Begitu dia menerima segelas air putih itu, dia langsung meminumnya sampai habis dan memakan kurma yang saya beri tadi dengan penuh syukur nikmat. Saya kembali melihatnya. Saya tertegun. Tersentuh. Dia berterima kasih kepada saya. Meskipun saya hanya memberi segelas air putih dan kurma saja, tapi saya melihat dia seperti makan es campur. Nikmat sekali. Pada awalnya saya hemdak membawakannya sekotak kurma. Namun dia sudah harus kembali mengantar pesanan.

Begitu saya kembali masuk rumah, otak saya langsung menerawang. Saya mendapat pelajaran yang sangat berarti hari ini. Dari si pengantar pesanan ini, saya mempelajari tentang, apa ya? mungkin bisa saya katakan untuk lebih mementingkan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri kita sendiri. Hal itu sangat mudah terlihat, bahwa dia lebih memilih untuk menunda berbuka puasa (yang saya tahu, menunda berbuka puasa itu kurang bagus) daripada telat mengantar pesanan. Dan satu hal lagi, saya menyadari bahwa saya terlalu egois. Saya selalu memikirkan diri sendiri dan saya cenderung bersikap masa bodoh dengan keadaan orang lain di skitar saya. Hal itu terlihat dari sikap saya yang sudah bersiap-siap untuk memarahi si pengantar. Dari kesadaran yang tadi, saya menyimpulkan bahwa saya harus belajar menghilangkan sikap EGOISME saya sendiri. Dan saya harus belajar untuk LEBIH MEMENTINGKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN DARIPADA KEPENTINGAN SAYA SENDIRI. Seharusnya bukan dia yang mengucapkan terima kasih, namun saya. Saya tidak memberikan dia apa-apa, namun dia memberikan pelajaran yang begitu berharga untuk saya. Terima kasih ya, karena telah menyadarkan saya….